Senin, 10 Desember 2012

Dinamika Konflik Dalam Organisasi

     Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup berkelompok. Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, banyak sekali muncul kelompok, komunitas, ataupun organisasi dengan berbagai latar belakang. Sebuah organisasi, tentu tidak akan pernah menjadi besar jika anggotanya hanya berfikir bahwa keberadaanya dalam organisasi tersebut hanya didasarkan atas kesamaan nasib belaka. Tentu dalam perjalananya anggota organisasi yang seperti itu haruslah melakukan redefinisi atas eksistensinya tersebut. Suatu organisasi tentu akan terjadi suatu dinamika dimana menuntut perhatian pengurus dan anggotanya dan semua itu terjadi oleh faktor pribadi dari organisasi itu sendiri. 
      Menurut Gibson, et al (1997: 437) Konflik merupakan hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
Dengan adanya pengertian tersebut, menurut saya untuk menghindari dan menghambat adanya konflik tersebut suatu organisasi harus ada komunikasi yang baik antar anggota dimana dengan adanya komunikasi tersebut tidak akan terjadi miss communication / miss understanding dalam suatu organisasi.
     Dari pengertian di atas, terjadinya suatu konflik di dasari oleh pola pikir pribadi organisasi itu sendiri. Adapun unsur-unsur pribadi yang menyebebabkan konflik organisasi menurut Jendela Johari antara lain :
1. Pribadi terbuka (open self), bentuk interaksi ini orang mengenal dirinya sendiri dan orang lain.
2. Pribadi tersembunyi (hidden self), bentuk ini orang mengenal dirinya sendiri tetapi tidak mengenal pribadi orang lain.
3. Pribadi buta (blind self), bentuk ini orang mengenal pribadi orang lain tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.
4. Pribadi tak dikenal (undiscovered self),bentuk ini orang tidak mengenal baik dirinya sendiri maupun orang lain.
     Setiap anggota organisasi tidak dapat di pungkiri pasti akan memiliki sifat-sifat pribadi tersebut termasuk dalam perusahaan di mana tempat saya bekerja dimana ada beberapa kasus yang saya alami di perusahaan CV. omega,contohnya : kesadaran akan kemampuan diri sangat kurang, sehingga dalam bekerja pun tidak dapat mengembangkan potensi akan dirinya tersebut. Dengan demikian menurut saya seorang atasan harus melakukan pendekatan emosional kepada karyawan untuk memahami karakteristik dari masing-masing personal. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan sistem terbuka dan pemberian motovasi-motivasi kepada karyawan. Jadi antara atasan dan bawahan tidak di batasi oleh perbedaan jabatan. Dengan demikian akan menghasilkan komunikasi yang lebih relevan antar divisi dalam organisasi dan konflik pun dapat di hindari. Banyak sekali manfaat dari menggunakan sistem terbuka, antara lain :
- Mengurangi adanya konflik.
- Kerjasama tim dalam organisasi lebih menyatu dan tidak mementingkan kepentingan dan tujuan-tujuan sendiri.
- Menjalin hubungan yang baik antar divisi organisasi.
- Lebih mudah mengkoordinir anggota organisasi dan
- Organisasi dapat menjalankan aktivitasnya dan mencapai tujuan bersama lebih baik.
     Selain dapat memahami karakteristik seseorang,seorang manajer juga harus memahami hal yang dibutuhkan dalam memotivasi gairah bekerja seperti yang sudah di kemukakan oleh Mc. Clelland yang mengelompokan 3 kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah bekerja seseorang, yaitu :
1. Kebutuhan akan Prestasi ( Need for Achievment )
2. Kebutuhan akan Afiliasi ( Need for Affiliation )
3. Kebutuhan akan Kekuasaan ( Need for Power )
Dengan pengertian tersebut seorang manajer harus dapat berfikir secara obyektif untuk menentukan siapa saja mendapat apresiasi dari perusahaan agar tidak terjadi adanya konflik kecemburuan sosial antar karyawan.
Sumber :

http://okghiqowiy.blogspot.com/2012/06/dinamika-konflik-dalam-organisasi.html ( 10 Desember 2012, 12:10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar